Rudini, Generasi Kedua Amas Sambas

Rudini, Dilahirkan di Kampung Lio, Ciwidey, Kabupaten Bandung, pada tanggal 7 Agustus 1989. Merupakan anak ke-3 dari Bapak Amas Sambas. Saya mengenal anak ini ketika pertama kali saya mengenal keluarga Bapak Amas Sambas yaitu sekitar tahun 1996 jadi kurang lebih anak ini berusia sekitar 7 tahun dan baru masuk kelas 1 SD. Kerta Wesi – Kampung Lio, Ciwidey, Kabupaten Bandung. Letak SD tersebut relatif berdampingan dengan rumahnya karenanya tidaklah heran kalo anak ini disela waktu istirahatnya sering pulang kerumah untuk sekedar makan dan minum.

Perangainya keras sejak kecil, sehingga warga sekitar mungkin lebih mengenal Rudini kecil ini sebagai anak Nakal. Dari mulai anak seusianya sampai orang tua yang berada di sekitar Kampung Lio, mengenal Rudini kecil yang nakal ini.

Kalau saya perhatikan secara jeli, anak ini secara intelegencia memang memiliki sedikit kekurangan, tingkat emosionalnya sangat tinggi, sehingga tidak heran kalau Rudini sering berkelahi.

Bapak Dadang, adalah tetangga dari Keluarga Amas, beliau memiliki usaha jual beli barang rongsokan atau jual beli besi tua di Kampung Lio, Ciwidey. Beliau sangat pintar mendekati Rudini dan anak yang nakal ini menjadi sangatlah dekat dan sangat menyegani Pak Dadang. Kedua orang tuanya sangat senang karena di dalam rumahnya sudah tidak ada yang disegani.

Kelas 4 SD, Rudini sudah berani memulai kerja paruh waktu dengan Pak Dadang, yang kebetulan disamping berjualan besi tua beliau juga memiliki bengkel tempa (Bhs. Sunda namanya Gosali), yang memproduksi alat2 pertanian seperti sekop garpu, cangkul, parang, dan alat pertanian lainnya. dia bekerja sebagai pembantu panjak, sedangkan pande nya adalah Pak Dadang sendiri.

Anak ini memutuskan untuk berhenti sekolah sampai dengan kelas 5 SD, waktu itu sayapun sempat mencoba untuk membujuk dia agar menyelesaikan sekolah minimal sampai dengan lulus SD. Tetapi semuanya tidak berhasil membujuk dan meyakinkan Rudini dan keputusan berhenti sekolah tetap menjadi pilihannya. Kedua orang tuanya sangat sedih waktu itu karena saya tau betul support dari kedua orang tuannya sangatlah penuh. Walaupun saya juga prihatin saat itu tapi akhirnya saya hanya mampu kasih solusi kepada keluarga Pak Amas.

Waktu itu saya bilang kepada kedua orang tuanya,:”Yang penting kita harus mengarahkan anak ini, agar kelak bisa mampu hidup mandiri”. Saya yakin sekali sama anak ini karena dari kecil sudah memiliki bakat menempa yang cukup tinggi dan memiliki fisik yang cukup kuat.

Berturut turut setelah Pak Dadang menjadi guru pertamanya, dilanjutkan dengan bekerja menjadi Panjak, di gosali milik, Pak Eruk, Pak Mamat, Bah Kayi, Pak Anie, Pak Agus Ramlan dan Terakhir di gosali milik Pak Kohar. Pengalaman ini ditempuh dari usia 10 tahun sampai dengan 19 tahun, jadi saat ini Rudini memiliki jam terbang sekitar 9 tahun, dalam membuat berbagai perkakas pertanian.

Menjelang dewasa inilah orang tuanya mulai menarik anaknya kembali untuk mengarahkan anak tersebut membuat baja pamor (Damascussteel), tepatnya pada usia Rudini 19 tahun. Pada tanggal 5 Oktober 2008, saya dan Pak Amas mencoba Rudini untuk menjadi panjak pada gosali pamor siliwangi, dan hasil pengamatan saya Rudini memiliki talenta yang cukup kuat serta naluri dan gaya tempa yang cukup unik. Secara usia karena masih sangat muda Rudini memiliki power untuk pukulan yang cukup kuat, didukung dengan kelenturan tubuh yang sangat indah pada saat memukul pijaran baja yang ditempa pada sepertiga temperatur menjelang titik lebur baja karbon yaitu sekitar 850 derajat Celcius.

Inilah yang menjadi kebanggan saya maupun keluarganya ternyata pilihan hidup yang dia putuskan sudah mulai membuahkan hasil. Rudini telah berhasil membantu ayahnya dalam membuat baja pamor. Secara tidak langsung mulai saat ini kami memiliki satu orang lagi generasi penerus pembuat baja pamor di Ciwidey. Secara moral sayapun memiliki kewajiban moral untuk mensupport Rudini khususnya mengenai teknik pembuatan baja pamor dan perkembangan dari material damascussteel tersebut. Selamat berkarya dan berprestasi buat Rudini kelak jerih payah ayahmu akan didengar dan dihargai orang.

~ by bayushidajat on October 5, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: